Menanti Efek Kejut Nadiem Saat Jadi Menteri

Nama Pendiri Gojek Nadiem Makarim sudah masuk dalam bursa calon menteri sejak beberapa waktu lalu.

Menanti Efek Kejut Nadiem Saat Jadi Menteri

Bisnis.com, JAKARTA -- Pendiri Gojek Nadiem Makarim menjadi calon menteri ketiga yang "diperkenalkan" Presiden Joko Widodo ke publik.

Belum resmi ditunjuk kebagian tugas apa, tetapi Nadiem datang mengenakan kemeja putih lengan panjang. Dia menjadi orang ketiga yang datang ke Istana Kepresidenan setelah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu, Senin (21/10/2019).

Busana Nadiem jauh dari kesehariannya yang kemana-mana mengenakan kaos oblong, celana jeans, dan sepatu kets. Namun, yang pasti, pria lulusan Harvard University menerima tawaran Jokowi untuk menjadi salah satu pembantunya.

"Kedatangan" para calon menteri ini sesuai dengan janji Presiden sesaat setelah dilantik untuk jabatan periode kedua. Pemanggilan terjadi bersamaan dengan kepergian Wakil Presiden Ma’ruf Amin ke Jepang untuk menghadiri penobatan Kaisar Naruhito.

Nadiem juga telah memutuskan mundur dari Gojek guna menyambut penugasan barunya ini.

Presiden Joko Widodo saat dilantik menjadi presiden periode 2019-2024 di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2019)/Bisnis-Nurul Hidayat

“Per hari ini sudah sama sekali, [tidak memiliki] posisi maupun kewenangan apapun di Gojek," katanya seusai bertemu Presiden di Istana, Senin (21/10).

Nadiem menyatakan tawaran masuk ke kabinet oleh Jokowi merupakan "suatu kehormatan yang luar biasa". Dia juga sangat senang karena pemanggilan dirinya menunjukkan bahwa Indonesia siap berinovasi dan maju pada masa mendatang.

Di Indonesia, siapa yang tak kenal Nadiem? Dia adalah satu dari beberapa anak muda sukses dalam mengembangkan bisnis rintisan dan menjadikan Gojek sebagai perusahaan yang sejak April lalu oleh lembaga riset global, CBInsights, dimasukkan dalam Global Unicorn Club perusahaan teknologi yang memiliki valuasi US$10 miliar.

Hal ini merupakan membuat Gojek berhak menyandang status decacornDecacorn adalah julukan bagi startup yang memiliki valuasi di atas US$10 miliar atau setara Rp 140 triliun.

CBInsights menghitung saat ini, baru ada 19 perusahaan rintisan decacorn di dunia. Decacorn terbanyak berasal dari Amerika Serikat, dan di Asia Tenggara baru ada dua yakni Gojek dan pesaingnya, Grab Holdings.

Nadiem, dalam sebuah wawancara dengan Bisnis beberapa tahun lalu, sempat tercenung cukup lama ketika ditanya apa yang dirasakan setelah menjadi ikon inovasi disruptif Indonesia mutakhir. Menurutnya, ini adalah sebuah pertanyaan sulit karena kejutan yang terjadi kemudian, jauh di luar perkiraan.

Namun, perlahan, penuturan CEO Gojek Indonesia tersebut mengalir deras. Kalimat Nadiem terstruktur, padat dan berisi.

Pengemudi Gojek membelikan pesanan pelanggan lewat layanan Go-Food./Bloomberg-Dimas Ardian

“Saya kaget, tidak menduga. Tidak ada siapa pun di Gojek [menduga]. Tidak ada yang bayangin, perusahaan ojek bisa jadi perusahaan teknologi terbesar di Indonesia,” ucapnya. 

Pria yang pada 4 Juli 2019 genap berusia 35 tahun itu mengenang kedua orang tuanya sudah terkaget-kaget sejak Gojek hendak dirintis.

“Mereka bilang ke saya, ‘Ha? Lu mau keluar dari pekerjaan setelah baru lulus dari Harvard dan dan bikin perusahaan ojek?’ Itu pertanyaan mereka,” tutur Nadiem. 

Namun, keterkejutan ini berubah dari kebanggaan ketika Gojek menjadi perusahaan seperti sekarang. Dengan 2 juta mitra driver dan melayani 3 juta pesanan per hari apa yang perlu diragukan dari Gojek dan tentu saja Nadiem sebagai pendirinya?

Nadiem menuturkan Gojek adalah inovasi sangat unik di Indonesia yang kemudian merembet ke mana-mana. Saat ini, ada 12 varian produk Gojek, mulai dari layanan pembelian dan pengiriman makanan, barang, jasa pijat, hingga layanan pembayaran.

“Bagi saya, itu inspirasi buat Indonesia bahwa keunikan kita bisa menjadi suatu keunggulan kompetitif, keunikan ekonomi informal. Saya senang banget bisnis ini bisa besar dan keluar dari sektor informal, sektor kerakyatan, bukan jadi sektor yang sama lagi,” tutur pria yang setiap hari masih lima kali menumpang ojek untuk mendukung mobilitasnya di Jakarta itu.

Filosofi menjadi entrepreneur, menurut Nadiem, bukan sekadar mencari uang. Kalau hendak kaya, jual beli tanah itu bisa cepat kaya, lebih aman, lebih tenang hidup.

Founder dan CEO Gojek Grup Nadiem Makarim (kedua kanan) bersiap melakukan konvoi usai peresmian logo baru Gojek di Jakarta, Senin (22/7/2019)./Bisnis-Nurul Hidayat

“Tidak bisa jadi entrepreneur sukses kalau mikirnya cari duit. Ini terlalu menyakitkan [untuk] pekerjaan ini, terlalu sulit,” ujarnya. 

Nadiem menilai harus ada motivasi yang lebih besar dari uang. Dia selalu teringat nasihat sang ayah, Nono Anwar Makarim yang merupakan seorang ahli hukum, soal analogi main kelereng, di mana mengincar kelereng milik teman bukanlah motivasi.

Ngincarnya adalah jago banget main kelereng. Jadi harus suka dan passion-nya di main kelereng, nanti otomatis dapat kelerengnya. Ayah saya analogikan itu untuk duit juga, pokoknya 'lu mahir di main kelereng, keuntungan pasti akan datang'. Jadi kita perlu mendedikasikan hidup kepada suatu hal yang kita tekuni,” papar mantan Management Consultant Mckinsey & Co. tersebut.

Satu dua hari ini, kita semua akan menunggu kepastian posisi apa yang dipercayakan oleh Jokowi kepada Nadiem Makarim. Sempat ada spekulasi akan ada Kementerian Ekonomi Digital, di situ kah dia akan berlabuh? Tunggu saja. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Nadiem Makarim, Kabinet Jokowi-Ma'ruf